Dari Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-56, Kalbar Pamerkan Garuda Pancasila

Posted by By at 1 May, at 11 : 36 AM Print


Garuda Pancasila telah menjadi lambang negara. Meski begitu masih banyak yang belum mengetahui siapa dan dimana pembuat dan letak patung Garuda pertama kali. Untuk itu, mahasiswa Kalbar yang menempuh pendidikan di Bandung menggelar pameran di museum Asia Afrika Bandung, dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika ke-56.

AGUSTINAH, Bandung

DIANTARA banyaknya bendera negara sahabat dan patung-patung berukuran besar serta ragam catatatan dinding tentang lahirnya Asia Afrika, disudut ujung Museum putih tersebut terpajang patung Garuda. Patungnya tidak begitu rapi, namun diselubung oleh kaca. Sementara disekeliling patung tersebut, tempelan sejarah Garuda tertera.
Para pengujung pun, yang sebagian adalah pelajar, antusias melihat. Mereka ingin tahu sejarah lambang negara. Pameran tersebut disediakan langsung oleh Museum Asia Afrika untuk Kalbar. Daerah di mana lambang itu berasal.
Hari terakhir peringatan KAA, Minggu (24/4), mungkin sedikit berbeda sekaligus sangat membanggakan bagi Kalbar. Agenda besar tersebut, menjadi ajang pameran bagi mahasiswa Kalbar yang kuliah di Bandung.
Dalam pameran tersebut, juga dimeriahkan tarian khas Kalbar. Berupa, tarian Melayu Dayak. Lenggak-lenggok penari berhasil menghipnotis penonton. Mungkin belum banyak yang kenal dengan siapa pencetus lambang negara tersebut.
Dia adalah Sultan Hamid II. Terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Syarif Abdul Hamid lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab. Semasa kecil, ia pernah diasuh perempuan berkebangsaan Inggris. Istrinya adalah perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak yang kini bermukim di Belanda.
Dalam pameran tersebut, mahasiswa Kalbar berperan aktif menjaga stand. Hadir pula langsung dari Kalbar kepala museum Sintang, Siti Musrikah, Akademisi Universitas Tanjungpura Turiman Faturahman, serta Max Yusuf Alkadrie yang merupakan keturunan langsung Sultan Pontianak.
Kepala Perpustakaan Museum Asia Afrika Usman Pasha menyatakan salut kepada pemerintahan Kalbar, terutama Sintang yang berusaha keras untuk menampilkan lambang negara agar bangsa Indonesia tahu sejarah Garuda.
”Salut buat teman-teman dari Kalbar karena dari jauh mengikuti pameran dari awal hingga akhir dan membawa serta burung garuda yang pertama kali dibuat,” kata Usman.Siti Musrikah, kepala Museum Sintang, berharap ke depan lambang negara tersebut bisa lebih banyak ada di setiap daerah dan masyarakat tahu sejarah lambang tersebut.Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf yang menutup langsung peringatan KAA tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk terus memiliki semangat perjuangan. Dengan agenda tersebut, diaharapkan menumbuhkan kembali keyakinan akan perjuangan Asia Afrika.”Semangat buat para sultan yang bersedia hadir datang dari daerah untuk melihat langsung peringatan Asia Afrika,” katanya. Usai memberikan kata sambutan, ia sedikit menyinggung akan adanya Garuda sebagai lambang negara. Ia berharap agar lambang negara yakni Garuda Pancasila bisa tetap di ketahui masyarakat. (**)

SUMBER

Photobucket

NEWS

Related Posts

Comments are closed.

My Twitter is worth

Twitter Value

Archives

Shared on Facebook

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.