Asal Usul Bahan Pembuatan Es Krim Magnum

Posted by By at 14 April, at 20 : 00 PM Print


PONTIANAK – Berkembang pesatnya industri pangan multinasional, tak terelakkan banyak menggunakan bahan kimia maupun alami berupa nabati dan hewani.

“Dalam industri pangan, E471 dan E472 merupakan kode bahan tambahan pangan atau food additive untuk dua jenis bahan pengemulsi dan penstabil,” tutur Dra Yanuarti Apt Mkes, Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB POM) Pontianak, kepada Equator, Selasa (12/4).

Dijelaskan, E471 adalah mono/digliserida yang struktur kimianya terdiri atas gliserol dengan satu atau dua asam lemak. Sedangkan E472 merupakan ester dari mono/digliserida yang struktur kimianya terdiri atas gliserol dengan satu atau dua asam lemak dengan tambahan asam organik yang dapat berupa asam asetat, laktat, tartarat atau sitrat. “Titik kritis kehalalan dari E471 dan E472 adalah asal-usul bahan pembuatnya,” katanya.

Sebab, keduanya merupakan turunan lemak sehingga ada peluang bersumber dari tumbuhan maupun hewan. Jika dari hewan, tentunya harus diketahui dengan pasti kehalalan hewannya dan cara penyembelihannya. Di samping itu, perlu dikritisi adanya peluang penggunaan enzim dalam proses pembuatannya.

Sumber enzim itu, dapat saja berasal dari tumbuhan, hewan, maupun produk mikrobial.

“Jadi, E471 dan E472 itu belum pasti haram meskipun belum pasti juga halal. Dan yang mengeluarkan sertifikat halal tentu saja LP POM MUI,” tuturnya.

Menurutnya, E471 dan E472 dapat digunakan pada berbagai jenis makanan olahan yang memerlukan bahan pengemulsi atau penstabil dalam proses pembuatannya, termasuk es krim. “Akan tetapi, tidak berarti es krim harus menggunakan kedua bahan tersebut. Karena jenis bahan pengemulsi dan penstabil lain masih banyak,” katanya.

Jika suatu produk menggunakan E471 atau E472, pada label kemasannya tentunya kedua bahan tersebut harus disebutkan dalam informasi ingredients atau bahan baku. Seperti halnya keharusan menuliskan bahan-bahan lain yang digunakan untuk membuat produk bersangkutan.

Informasi yang muncul bisa berupa kode E471 atau E472 atau nama kimianya, yaitu mono/digliserida atau ester mono/digliserida. Halal atau tidaknya produk yang menggunakan kedua bahan tersebut, hanya dapat diketahui melalui pengkajian dan penelitian yang dilakukan lembaga berwenang, bukan oleh konsumen sendiri.

Karena itu, ia mengimbau kepada konsumen Muslim khususnya yang berada di Kalbar agar lebih teliti dalam merespons keberadaan E471 atau E472 di dalam sebuah produk termasuk es krim.

“Masyarakat harus lebih waspada serta teliti dengan produk ilegal yang masuk ke Kalbar jika membeli produk makanan. Pastikan ada label halal di produk tersebut. Sebab, sudah tentu produk ini dikaji oleh LPPOM MUI,” paparnya.

Banyak produk yang sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI, berupa logo halal MUI pada label produk tersebut. “Cukup banyak produk yang mengandung E471 dan E472 yang sudah disertifikasi MUI, termasuk produk es krim,” pungkasnya. (oen)

SUMBER

Photobucket

BUZZ

Related Posts

Comments are closed.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.