Akhir 2012 Garuda Indonesia Tinggalkan Kalbar

Posted by By at 5 July, at 10 : 07 AM Print


PONTIANAK – Jika hingga akhir 2012 pembangunan runaway baru Bandara Supadio Pontianak tidak terealisasi, maka PT Garuda Indonesia bakal meninggalkan Kalbar. Ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah bersama DPRD Kalbar.

“Ada beberapa kesimpulan pada rapat kerja Komisi C DPRD Kalbar dengan PT Angkasa Pura II, PT Garuda Indonesia Kalbar, Dinas Perhubungan dan Kominfo Kalbar belum lama ini. Di antaranya, Pemprov harus membebaskan lahan 30 hektar sesuai kebutuhan design pembangunan ran way baru,” kata H Mulyadi H Yamin, Ketua Komisi C DPRD Kalbar kepada Equator, belum lama ini.

Kesimpulan rapat kerja, Garuda tidak boleh hengkang dari Kalbar. Artinya Pemprov dan DPRD beserta PT Angkasa Pura harus bersama-sama mendorong pemerintah pusat untuk pembangunan ran way Supadio yang representatif. Ran way baru mesti dibangun sesuai kebutuhan Garuda.

Mulyadi menegaskan, pada dasarnya pihaknya tetap dan komitmen untuk mendorong dan melobi pemerintah pusat agar pembangunan ran way baru dapat segera terealisasi. Mengingat keberadaan Garuda juga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Bumi Khatulistiwa.

General Manager PT Garuda Indonesia Kalbar, Wempie Ohoiwutun menerangkan, akhir 2012 pihaknya sudah menggunakan pesawat terbaru. “Dalam business plan kami, untuk 2012 semua pesawat berbadan kecil Boeing 737 seri 300-400-500 akan dihapus. Karena itu kami diundang beserta pengelola bandara bagaimana mengantisipasi itu. Apakah landasannya harus kita tingkatkan atau apa yang terbaik,” jelasnya.

Wempie menegaskan, pada 2012 minimal akhir tahun, pihaknya sudah mengeluarkan pesawat lama. “Kami mengharapkan dewan bersama pemerintah daerah bisa memperjuangkannya ran way baru, agar Garuda bisa bertahan dan eksis di Bumi Khatulistiwa. Karena keberadaan Garuda sangat positif bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” kata Wempie.

Garuda akan mengganti seluruh pesawatnya dengan jenis Boeing 777-300 ER Longhorn, Air Bus 300 (medium), 737-800 Next Generation (NG). Namun dia mengatakan, pesawat jenis ini tidak bisa mendarat di Bandara Supadio Pontianak.

Landasan pacu bandara Supadio Pontianak saat ini kemampuan daya tekannya di bawah 35 Pavement Classification Number (PCN). Sedangkan ketiga pesawat itu untuk bisa mendarat landasan pacu harus memiliki daya tekanan di atas 40 PCN.

Wempie mengatakan, itu merupakan keputusan manajemen, dilihat dari kebutuhan site plan yang ada. Pada 2013 sudah tidak ada lagi menggunakan pesawat lama. “Tapi kalau ran way baru tidak dibangun, maka dengan sangat menyesal kami harus meninggalkan Kalbar,” tegasnya.

General Manajer PT Angkasa Pura II, Normal Sinaga belum lama ini mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada DPRD Kalbar bahwa kesepakatan PT Angkasa Pura sebagai BUMN, kewajiban pihaknya adalah membangun infrastruktur di line site.

“Kami sudah sampaikan kepada Dewan terhormat bahwa kesepakatan antara PT Angkasa Pura sebagai BUMN, kewajiban kita adalah membangun infrastruktur di line site dan pembangunan infrastruktur di air site adalah pemerintah melalui APBN,” paparnya.

Meski demikian, Normal Sinaga mengatakan, pihaknya akan mendorong segala kapasitas yang ada di Kalbar untuk diperjuangkan, agar pemerintah segera mungkin merealisasikan kebutuhan yang diperlukan saat ini.

“Kalau Garuda punya rencana untuk divais out, kita berharap dengan usulan dari Pemda Kalbar, mereka masih memberikan waktu. Kalau pembangunan ini (ran way baru) sudah mulai berjalan, saya yakin Garuda tetap eksis dan bertahan di Kalbar,” ujarnya.

Normal Sinaga menjelaskan, saat ini yang masih dilakukan adalah infrastruktur pendukung. “Tahun 2012, terutama anggota DPR yang mewakili Kalbar yang sangat diharapkan untuk memperjuangkan dana untuk pembangunan ran way,” harapnya.

Mengenai pembangunan terminal, Normal Sinaga menjelaskan, murni dana dari PT Angkasa Pura dan itu sudah tersedia. Pembangunan terminal itu dianggarkan sampai 2013 sebesar Rp250 miliar dan 2014 sebesar Rp300 miliar. “Ini bertahap karena kita tidak bisa membangun sekaligus,” ucapnya.

Untuk perpanjangan atau pembangunan ran way baru, Normal Sinaga mengatakan, menurut hitungan pemerintah dibutuhkan sekitar Rp700 miliar. “Pak Edi dari Dishub Provinsi yang menyampaikan. Dana untuk membuat ran way baru sekitar Rp700 miliar,” ungkap Normal. (jul) equator-news

Photobucket

NEWS

Related Posts

Comments are closed.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.