Kalbar Bangun PLTU, Hemat 210 Miliyar Rupiah

Posted by By at 24 March, at 17 : 37 PM Print


Perusahaan Listrik Negara kembali membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kalimantan Barat. Setelah Februari 2011, PLTU 3×7 Mega Watt di Sintang yang menelan dana 357 miliar Rupiah dimulai, Jumat (18/3), “Total untuk keduanya 575 miliar Rupiah. Sumber dananya berasal dari APLN,” kata General Manajer PT PLN (Persero) Wilayah Kalbar, Bambang Budiarto, kemarin.

Ia menambahkan, jika beroperasi nanti kedua PLTU ini akan menghemat penggunaan bahan bakar minyak. Karena, PLTU menggunakan bahan bakar batubara.
“Kalau kedua pembangkit tersebut bisa beroperasi, bisa menghemat 35 juta liter BBM pertahun atau setara 210 miliar Rupiah kalau kita asumsikan BBM 6 ribu Rupiah per liter,” ungkap Bambang.
Jika 210 miliar Rupiah pertahun, maka perbulan dapat menghemat 17,5 miliar Rupiah untuk membeli BBM, yang harganya semakin melambung tinggi. Dengan demikian, nilai subsidi dari pemerintah dapat ditekan. Selain dua PLTU tersebut, PLN kini juga tengah melakukan pengerjaan beberapa pembangkit. Antara lain di PLTU Parit Baru 2×50 MW dan PLTU Tanjung Gundul 2×75 MW.

Kemarin di PLN WKB, dilakukan penandatanganan kontrak antara PLN dengan PT Zug Industri Indonesia untuk PLTU 2×7 MW Sanggau tersebut. Kemudian Berita Acara serah terima pengelolaan pembangunan PLTU 3×7 MW Sintang dan PLTU Sanggau kepada PLN KIT Sumatera II. Serta MoU express power dengan PT Suka Jaya Makmur Ketapang.

Direktur Operasional PLN Wilayah Indonesia Barat Harijaya Pahlawan mengatakan, pembangunan PLTU di Kalbar ini merupakan program yang telah dicanangkan oleh PLN. Pelaksanaannya dimulai sejak tandatangan kontrak dilakukan.
“Kontraktor berjanji selesai dalam waktu di bawah 20 bulan. Insya Allah kita lihat nanti, jika semua berjalan baik dalam waktu 1,5 tahun sudah bisa masuk 2×7 MW atau malah 3×7 MW. Jadi, total semuanya 5×7 MW,” ungkap Hari, kemarin.
Dia menegaskan, pembangunan PLTU ini untuk menurunkan Biaya Pokok Produksi di Kalbar, dan meminimalkan pemakaian BBM yang harganya semakin tinggi belakangan ini. “Kalau 2×7 MW ini untuk Sanggau dan sekitarnya, masuk sistem 20 KV atau tegangan menegah. Jadi kalau ada tegangan menengah bisa dijangkau pembangkit itu,” ungkap Harijaya. Apakah akan mengaliri sampai daerah pedesaan atau pegunungan? Hari mengatakan, Insya Allah jaringannya bisa menuju ke sana. Makanya dia berharap manajer P2K yang mengelola listrik desa, bisa berkoordinasi dengan manajemen perencanaan agar bisa meningkatkan ratio elektrifikasi. “Jadi, desa yang belum teraliri listrik dan belum ada jaringan, bisa terbangun sehingga nantinya bisa disalurkan karena 14 MW ini bisa cukup banyak,” katanya. (Mekson/UPDE)

SUMBER

Photobucket

NEWS

Related Posts

Comments are closed.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.