Mengenang Kembali Peristiwa Mandor 28 Juni

Posted by By at 24 June, at 21 : 02 PM Print


BEGITU cepat waktu berlalu seakan-akan kejadian ataupun peristiwa yang dialami berlalu begitu saja dan pergi tanpa kesan. Demikianlah peristiwa Mandor Berdarah yang pernah dialami Kalbar puluhan tahun silam hampir ditelan waktu sekiranya tanpa kehadiran sosok figur Gubernur Kadarusno (Almarhum) pada tahun 1973 menetapkan hari Ziarah ke makam Mandor setiap tanggal 28 Juni dan pada tanggal 28 Juni 1977 Gubernur Kadarusno menetapkan hari bergabung Daerah dengan dan pemasangan bendera setengah tiang melalui persetujuan DPRD serta ziarah masal yang ditandai dengan diresmikanya Monumen Joang Mandor yang dibangun atas perintah beliau.

Begitu besar perhatian beliau atas peristiwa sedih yang bersejarah menimpa masyarakat Kalbar dengan terbunuhnya secara biadab 21.307 orang para tokoh, pemuka, para cendekiawan, bangsawan di Kalbar oleh bangsa Jepang yang biadab. Kita pun tak tahu kondisi Kalbar sekarang sekiranya pikiran yang biadab dari bangsa Jepang yang mengaku –Saudara Tua itu– yang merencanakan menghabiskan masyarakat Kalbar kiranya berhasil dan yang ditinggalkan hanyalah anak-anak berumur 12 tahun kebawah. Maksudnya akan men-Jepang-kan Kalbar. Sekarang bangsa yang biadab ini menjadi bangsa yang terhormat di dunia dengan kemajuanya dan terkaya tapi-satu peser- pun Kalbar tak menikmatinya terkecuali kehilang satu generasi menyebabkan Kalbar terpuruk pembangunanya.

Tuhan Maha Kuasa dan Maha Adil tanpa rakyat Kalbar membalasnya Tuhan yang membalaskannya melalui Bom Atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki oleh pasukan Sekutu. Bangsa yang biadab inipun merasakan juga bagaimana rasanya penderitaan dan kesedihan serta kesengsaraan keluarga yang ditinggalkan akibat pembunuhan yang keji dan kejam itu secara masal. Setiap tahun 15 Agustus Bangsa Jepang yang biadab itu memperingatinya dan sejak tahun 1995 Kaisar Akihito pertama kali memperingati di Hiroshima dengan Perdana Menterinya serta dipasang lampu lilin dimalam hari sebagai tanda bergabung di kuil Shinto di Tokyo yang dihadiri para Menteri. Bedanya kalau di Mandor setiap tahunnya pada tanggal 28 Juni diadakan upacara ziarah yang hanya dihadiri Gubernur dan masyarakat serta para keluarga korban tanpa dihadiri atau kata sambutan Pemerintah Pusat. Bahkan Makam Mandor ini tak pernah dikunjungi oleh Kepala Negara sejak ditemukannya makam Mandor sampai sekarang. Sebagai pengakuan hukum peristiwa yang punya nilai sejarah kelabu menimpa Kalbar yang pernah terjadi, Pemerintah Propinsi Kalbar melalui Perda No.5 Tahun 2007 ditetapkan tanggal 28 Juni sebagai hari bergabung Daerah Kalbar dengan upacara ziarah ke Makam Mandor serta menaikan bendera setengah tiang oleh warganya. Dengan Perda ini diharapkan kedepan peristiwa yang bernilai sejarah ini jangan hilang ditelan waktu oleh generasi penerus yang mungkin hanya bergelut masalah Politik saja menghadapi Pemilu dan Pilkada yang katanya berjuang untuk rakyat dengan melupakan cita-cita pendahulunya mengorbankan pikiran, tenaga, keringat, darah bahkan nyawa sekalipun seperti yang dipersembahkan 21.307 jiwa pada bumi Khatulistwa yang kita banggakan.

Kita harapkan pula melalui Perda No.5 Tahun 2007 ini Pemerintah Daerah mungkin bersama Departemen Kehutanan dapat pula menetapkan status dan batas kawasan Makam Mandor sebagai Kawasan lindung Cagar Budaya yang punya nilai sejarah yang mendalam bagi Kalbar terpelihara dengan baik. Ini penting agar terjaga dari keserakahan yang diwariskan Jepang yang merampas nyawa dan harta benda masyarakat Kalbar kepada orang-orang yang sekarang telah merusak kawasan tersebut untuk mendulang Mas (PETI ).

Melalui Tim Sosialisasi Perda ini dapat menjelaskan pada para pendulang liar agar mereka mengetahui makna keberadaan Makam ini sehingga mereka tidak diperdayai oleh cukong rakus dan serakah sebagai penampung yang ada dibelakangnya kalaupun ada.
Besok 28 Juni 2009 sebagai hari bergabung Daerah Kalbar, para pejabat dan masyarakat Kalbar beserta keluarga para korban akan melakukan ziarah ke makam Mandor. Berbeda hari bergabung sebelumnya kali ini sebagai peringatan yang ke 65 Tahun masyarakat Kalbar mendapat bingkisan dengan terbitnya sebuah buku yang berjudul –Peristiwa MANDOR BERDARAH – yang disusun oleh seorang pemuda yang sangat energik kelahiran Ngabang Kalbar 1974 bernama Syafarudidin Usman MHD. Buku yang diterbitkanya kali ini terbitan tahun 2009 merupakan buku yang ketiga sebagai penyempunaan dari bukunya yang pertama terbit tahun 1996 dengan judul –Tanah Mandor Bersimbah Darah- tentang Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat di Masa Pendudukan Jepang dan terbitan yang kedua tahun 2000 dengan judul – Peristiwa Mandor- tentang Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.

Dengan rendah hati dalam kata pengantarnya dibuku yang baru ini beliau menulis monograf ini sama sekali bukan sebagai sejarawan karena beliau katakan tidak memiliki ilmu dan kapasitas sebagai seorang sejarawan. Apapun yang beliau utarakan saya sebagai anak yang orang tua saya sebagai korban menyatakan penghargaan dan hormat saya yang sangat tinggi atas keperdulian dan ketekunan yang telah beliau lakukan. Buku yang beliau susun dan terbitkan pantas untuk menjadi bacaan khususnya masyarakat Kalbar dan Bangsa Indonesia umumnya. Karena banyak bangsa ini yang tidak tahu kejadian yang sangat biadab ini terjadi di Bumi Khatulistiwa tidak terkecuali masyarakat Kalbar sendiri khususnya generasi muda. Buku Ini dapat diperoleh di toko-toko buku baik toko buku biasa maupun toko buku seperti di Gramedia,Gunung Agung di Jakarta di Pontianak dan kota-kota lainya.

Mungkin benar apa yang diutarakan Gubernur Kadarusno ketika Ya’Syarif Umar menyampaikan surat permohonan dari Tsuchimochi sebagai agen rahasia Jepang yang pernah menetap di Pontianak sebelum Jepang masuk. Dia menyampaikan sebuah surat ke Ya’ Syarif Umar mohon izin rekan-rekanya bekas veteran Jepang yang orang sipil mengunjungi dan berziarah ke Makam Mandor. Surat tersebut disampaikan Ya’ Syarif Umar kepada Gubernur Kalimantan Barat Kadarusno. Ternyata ada respons. Silakan, kami bangsa pemaaf, kata Kadarusno sebagaimana dikutip Syarif. Mungkin benar ucapan Gubernur Kadarusno kita bangsa pemaaf tapi menurut saya kita bukan orang yang suka lupa -apalagi hati yang pernah terluka.

Dihadapan saya Gubernur Kadarusno katakan pada Ya’ Syarif Umar sampaikan pada orang Jepang itu jangan menemuinya kalau hanya mau menawarkan hasil produksi negaranya seperti Sony, Honda, Nisan dan sebagainya sebelum dia berkunjung dulu ke Makam Mandor supaya mereka tahu apa yang telah pernah bangsanya perbuat di Kalbar ini. Kata-kata ini saya ingat terus karena kebetulan saya bersama Bp Gubernur Kalbar waktu Ya’ Syarif menghadap beliau.
Sekali lagi harapan saya milikilah buku Peristwa MANDOR BERDARAH agar ziarah kali ini mengingatkan kembali pada kita bahwa penjajahan diatas Dunia ini sangat kejam sesuai UUD ‘45 kita. Harapan kita semoga para korban menjadikan kita ingat untuk meneruskan perjuangan membangun Kalbar yang sama –sama kita banggakan dan cintai. Semoga!**

Ditulis Oleh Ir Said Djafar Alm. SUMBER

Photobucket

SEJARAH SEJARAH KALBAR

Related Posts

Comments are closed.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.